Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DTGP Part 5: Bekerja Aman & Penggunaan APD dalam Teknik Geologi Pertambangan

DTGP Part 5: Bekerja Aman dan Penggunaan APD dalam Teknik Geologi Pertambangan

GO-SINARBULAN.COM: Belajar Geologi Pertambangan, Membangun Kompetensi, Bekerja dengan Aman, dan Menjaga Lingkungan. 

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari mata pelajaran Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan (DTGP) untuk murid SMK kelas X, khususnya pada elemen Kecakapan Kerja Dasar, Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Hidup (K3LH), dan Budaya Kerja.

Materi disajikan secara bertahap dalam tujuh bagian, mulai dari pengenalan kecakapan kerja dasar, standar dan prosedur kerja, disiplin dan kerja sama tim, prinsip K3LH, penggunaan alat pelindung diri (APD), budaya kerja industri 5R, hingga kepedulian lingkungan dan tanggap darurat. 

Kali ini kita sudah memasuki DTGP Part 5 dengan pokok bahasan : Bekerja Aman dan Penggunaan APD dalam Teknik Geologi Pertambangan

Agar lebih mudah dipahami, materi dikemas dengan bahasa yang sederhana, pembahasan yang lebih ringan, serta contoh-contoh yang dekat dengan kegiatan pembelajaran dan praktik Teknik Geologi Pertambangan. Dengan demikian, murid diharapkan dapat memahami konsep dasar secara bertahap dan menerapkannya dalam kegiatan belajar maupun sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Mari belajar bersama, membangun kebiasaan kerja yang baik, mengutamakan keselamatan, dan menjaga lingkungan sejak bangku sekolah.

A. Pendahuluan

Kegiatan Teknik Geologi Pertambangan membutuhkan keterampilan, ketelitian, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Berbagai kegiatan, seperti pengamatan singkapan batuan, pemetaan geologi, pengambilan sampel, pengukuran lapangan, pemboran eksplorasi, dan kegiatan penambangan, memiliki potensi bahaya yang harus dikendalikan.

Salah satu upaya perlindungan dalam pekerjaan tersebut adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). APD merupakan perlengkapan yang digunakan seseorang untuk melindungi bagian tubuh tertentu dari bahaya yang dapat menyebabkan cedera atau gangguan kesehatan.

Contoh APD antara lain helm keselamatan, sepatu keselamatan, kacamata pelindung, sarung tangan yang sesuai, pelindung pendengaran, respirator, dan rompi visibilitas tinggi. Setiap jenis APD mempunyai fungsi yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihannya harus disesuaikan dengan bahaya yang mungkin dihadapi dan ketentuan keselamatan di lokasi kerja.

Namun, bekerja aman tidak cukup hanya dengan memakai APD. Seseorang juga harus memahami prosedur kerja, memeriksa kondisi peralatan, mengikuti arahan petugas yang berwenang, menjaga komunikasi, dan menghentikan kegiatan apabila ditemukan kondisi yang tidak aman.

Dalam penerapan K3LH, APD merupakan salah satu bagian dari pengendalian risiko. APD tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan bahaya yang seharusnya dapat dihilangkan atau dikendalikan melalui metode lain yang lebih efektif.

Bagi murid kelas X Fase E pada Konsentrasi Keahlian Teknik Geologi Pertambangan, pemahaman mengenai bekerja aman dan penggunaan APD perlu dibangun sejak pembelajaran di sekolah. Kebiasaan ini menjadi bekal untuk mengikuti praktik, kunjungan industri, Praktik Kerja Lapangan (PKL), dan kegiatan kerja di masa mendatang.

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, murid diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian bekerja aman dan Alat Pelindung Diri (APD).
  2. Menjelaskan hubungan antara identifikasi bahaya, pengendalian risiko, dan penggunaan APD.
  3. Mengidentifikasi jenis-jenis APD beserta fungsi dan kegunaannya.
  4. Menentukan APD yang sesuai berdasarkan jenis bahaya dan kegiatan kerja.
  5. Menjelaskan langkah pemeriksaan APD sebelum digunakan.
  6. Menjelaskan prinsip pemakaian, perawatan, penyimpanan, dan penggantian APD.
  7. Menjelaskan tindakan yang harus dilakukan apabila APD rusak atau tidak sesuai.
  8. Menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri serta orang lain.

C. Materi Pokok

  1. Pengertian bekerja aman dan APD.
  2. Prinsip bekerja aman dalam Teknik Geologi Pertambangan.
  3. Jenis-jenis APD dan fungsinya.
  4. Pemilihan APD sesuai bahaya dan kegiatan kerja.
  5. Pemeriksaan APD sebelum digunakan.
  6. Tata cara penggunaan, perawatan, dan penyimpanan APD.
  7. Penerapan bekerja aman dalam kegiatan pembelajaran, praktik, dan kunjungan industri.

D. Materi Pembelajaran

1. Pengertian Bekerja Aman

Bekerja aman adalah melaksanakan pekerjaan dengan cara yang telah direncanakan, mengikuti prosedur, memperhatikan potensi bahaya, dan menerapkan pengendalian risiko agar kemungkinan terjadinya kecelakaan, gangguan kesehatan, serta kerusakan lingkungan dapat dikurangi.

Bekerja aman tidak berarti bahwa seseorang sama sekali tidak akan menghadapi bahaya. Dalam kegiatan geologi dan pertambangan, beberapa bahaya mungkin tetap ada meskipun berbagai tindakan pengendalian telah dilakukan. Oleh karena itu, setiap pekerjaan harus direncanakan dan dilaksanakan sesuai ketentuan keselamatan yang berlaku.

Beberapa prinsip bekerja aman adalah sebagai berikut.

a. Memahami pekerjaan sebelum memulai

Seseorang harus mengetahui tujuan kegiatan, urutan pekerjaan, peralatan yang digunakan, lokasi kegiatan, dan potensi bahaya yang mungkin ditemukan.

b. Mematuhi prosedur kerja

Pekerjaan harus dilaksanakan sesuai SOP atau instruksi kerja yang berlaku. Prosedur tidak boleh diabaikan hanya karena pekerjaan dianggap mudah atau sudah pernah dilakukan sebelumnya.

c. Memeriksa peralatan dan perlengkapan

Peralatan kerja dan APD harus diperiksa sebelum digunakan. Peralatan yang rusak atau tidak layak harus dilaporkan dan tidak digunakan sampai dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang.

d. Menggunakan APD yang sesuai

APD harus dipilih berdasarkan jenis bahaya, karakteristik pekerjaan, ukuran yang sesuai, dan persyaratan keselamatan di lokasi kerja.

e. Menjaga komunikasi

Anggota kelompok perlu memahami pembagian tugas dan saling menyampaikan informasi yang berkaitan dengan keselamatan. Instruksi harus dipahami sebelum pekerjaan dimulai.

f. Tidak melakukan pekerjaan di luar kewenangan

Murid tidak boleh mengoperasikan mesin, memperbaiki instalasi, memasuki zona terbatas, atau melakukan pekerjaan berisiko tinggi tanpa kompetensi, izin, pengawasan, dan prosedur yang sesuai.

g. Menghentikan kegiatan jika kondisi tidak aman

Apabila ditemukan bahaya serius, APD tidak tersedia, alat mengalami kerusakan, atau kondisi lingkungan memburuk, kegiatan harus dihentikan sesuai prosedur dan dilaporkan kepada guru atau petugas yang berwenang.

2. Pengertian dan Fungsi Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri (APD) adalah perlengkapan yang digunakan seseorang untuk melindungi dirinya dari paparan bahaya tertentu saat bekerja.

APD dirancang untuk melindungi bagian tubuh, seperti kepala, mata, wajah, telinga, saluran pernapasan, tangan, kaki, dan tubuh. Jenis perlindungan yang dibutuhkan bergantung pada hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko.

Secara umum, APD memiliki fungsi sebagai berikut.

    1. Mengurangi paparan terhadap bahaya tertentu.
    2. Melindungi bagian tubuh dari benturan, percikan, benda tajam, debu, kebisingan, atau bahaya lain sesuai rancangan APD.
    3. Mengurangi kemungkinan cedera atau gangguan kesehatan.
    4. Mendukung pelaksanaan pekerjaan sesuai persyaratan keselamatan.
    5. Membantu memenuhi ketentuan keselamatan yang berlaku di tempat kerja.

Penting untuk dipahami: APD tidak selalu menghilangkan bahaya dan tidak menjamin seseorang bebas dari kecelakaan. APD hanya memberikan perlindungan sesuai fungsi, kondisi, dan batas penggunaannya.

Sebagai contoh, helm keselamatan yang sesuai dapat membantu melindungi kepala dari bahaya benturan tertentu. Namun, helm tidak menjadikan seseorang aman untuk berdiri di bawah batuan yang berpotensi runtuh. Bahaya runtuhan tetap harus dihindari dan dikendalikan.

3. Jenis-Jenis APD dan Fungsinya

Jenis APD yang digunakan dalam Teknik Geologi Pertambangan dapat berbeda menurut kegiatan dan potensi bahaya. Berikut beberapa jenis APD yang perlu dikenal.

a. Helm keselamatan

Safety helmet atau helm keselamatan digunakan untuk membantu melindungi kepala dari bahaya tertentu, seperti benturan dan benda jatuh, sesuai kelas dan spesifikasi helm.

Helm keselamatan sering digunakan dalam kegiatan lapangan, kunjungan industri, pemboran eksplorasi, dan pekerjaan di area yang memiliki risiko terhadap kepala.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

    • Helm harus sesuai dengan jenis bahaya dan ketentuan lokasi kerja.
    • Cangkang helm dan sistem suspensi harus berada dalam kondisi baik.
    • Tali dagu digunakan apabila dipersyaratkan atau dibutuhkan sesuai kondisi kerja.
    • Helm yang retak, berubah bentuk, rusak, atau telah mengalami benturan yang menurut petunjuk produsennya mengharuskan penggantian tidak boleh digunakan kembali.
    • Helm harus disimpan dan dirawat sesuai petunjuk produsen.

Helm keselamatan tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengendalian bahaya batuan jatuh, runtuhan, atau material yang tidak stabil.

b. Sepatu keselamatan

Safety shoes atau sepatu keselamatan digunakan untuk membantu melindungi kaki dari bahaya sesuai spesifikasinya.

Dalam kegiatan geologi dan pertambangan, kaki dapat terpapar bahaya berupa batuan tajam, benda berat, permukaan licin, lumpur, atau material yang dapat melukai kaki.

Sepatu keselamatan yang sesuai dapat memiliki fitur seperti pelindung jari kaki, sol antiselip, atau ketahanan terhadap bahaya tertentu. Tidak semua sepatu keselamatan memiliki seluruh fitur tersebut.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

    • Pilih sepatu berdasarkan kondisi medan dan jenis bahaya.
    • Pastikan ukuran sepatu sesuai dan nyaman digunakan.
    • Periksa sol, jahitan, bagian pelindung, dan kondisi keseluruhan sepatu.
    • Jangan menggunakan sepatu dengan sol terlepas atau kondisi yang dapat mengurangi perlindungannya.
    • Gunakan jenis sepatu yang dipersyaratkan oleh lokasi kerja.

Sepatu biasa tidak otomatis setara dengan sepatu keselamatan yang dirancang dan diuji untuk perlindungan tertentu.

c. Kacamata pelindung

Kacamata pelindung digunakan untuk membantu melindungi mata dari bahaya, seperti debu, serpihan material, atau percikan tertentu.

Dalam kegiatan pengambilan sampel batuan, preparasi sampel, dan pekerjaan lain yang menghasilkan partikel, mata dapat terpapar serpihan yang berpotensi menyebabkan cedera.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

    • Pilih kacamata sesuai jenis bahaya.
    • Pastikan lensa tidak retak atau tergores berat sehingga mengganggu penglihatan.
    • Pastikan kacamata terpasang dengan baik.
    • Gunakan pelindung mata atau wajah tambahan apabila diperlukan berdasarkan penilaian risiko.
    • Bersihkan dan simpan sesuai petunjuk produsen.

Kacamata biasa yang digunakan sehari-hari tidak otomatis memberikan perlindungan yang sama dengan kacamata keselamatan.

d. Pelindung wajah

Pelindung wajah atau <em>face shield</em> digunakan untuk membantu melindungi wajah dari bahaya tertentu, seperti percikan atau serpihan material.

Pelindung wajah dapat diperlukan pada pekerjaan tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan kacamata pelindung. Jika terdapat risiko terhadap mata, perlindungan mata yang sesuai tetap harus digunakan sesuai hasil penilaian risiko dan petunjuk produsen.

e. Sarung tangan pelindung

Sarung tangan pelindung digunakan untuk membantu melindungi tangan dari bahaya sesuai bahan dan desainnya.

Contoh bahaya yang dapat dihadapi antara lain:

    • Permukaan batuan yang tajam.
    • Gesekan dan abrasi.
    • Kotoran atau bahan tertentu.
    • Bahaya mekanis tertentu.
    • Paparan bahan kimia tertentu apabila sarung tangan memang dirancang untuk bahan tersebut.

Sarung tangan harus dipilih berdasarkan jenis pekerjaan. Sarung tangan yang cocok untuk menangani batuan belum tentu cocok untuk menangani bahan kimia.

Pada pekerjaan yang melibatkan mesin berputar, penggunaan sarung tangan dapat menimbulkan risiko tersangkut apabila tidak sesuai dengan prosedur dan penilaian risiko. Karena itu, sarung tangan tidak boleh digunakan secara sembarangan di dekat bagian mesin bergerak.

f. Pelindung pendengaran

Pelindung pendengaran digunakan untuk membantu mengurangi paparan kebisingan yang dapat mengganggu atau merusak pendengaran.

Jenisnya antara lain:

    • Earplug, yaitu pelindung yang digunakan pada saluran telinga.
    • Earmuff, yaitu pelindung yang menutupi telinga dari luar.

Pelindung pendengaran dapat diperlukan pada area pemboran atau lokasi dengan tingkat kebisingan yang berisiko. Pemilihannya harus berdasarkan penilaian paparan kebisingan dan persyaratan keselamatan yang berlaku.

Pelindung pendengaran harus digunakan dengan cara yang benar agar perlindungannya efektif. Kebisingan juga perlu dikendalikan melalui tindakan lain, misalnya pemeliharaan mesin, pengendalian sumber suara, dan pengaturan paparan.

g. Pelindung pernapasan

Pelindung pernapasan digunakan untuk membantu melindungi saluran pernapasan dari kontaminan tertentu, seperti debu atau partikel di udara, sesuai jenis dan kemampuan alat.

Contohnya dapat berupa respirator partikulat yang sesuai dengan jenis partikel dan tingkat paparan.

Pemilihan pelindung pernapasan harus mempertimbangkan jenis kontaminan, konsentrasi paparan, kondisi kerja, kecocokan alat pada wajah, serta prosedur yang berlaku.

Hal penting yang perlu dipahami:

    • Masker biasa tidak otomatis memberikan perlindungan yang memadai terhadap seluruh jenis debu berbahaya.
    • Respirator harus dipilih sesuai bahaya, bukan hanya berdasarkan penampilan atau kenyamanan.
    • Respirator yang memerlukan uji kesesuaian pemakaian harus digunakan sesuai persyaratan program perlindungan pernapasan.
    • Kondisi filter, kebersihan, dan masa pakai harus diperhatikan.
    • Respirator tidak boleh digunakan untuk memasuki atmosfer yang kekurangan oksigen atau lingkungan berbahaya yang tidak diketahui tanpa sistem perlindungan dan prosedur khusus.

Pengendalian debu di sumbernya, misalnya melalui metode kerja atau sistem pengendalian yang sesuai, tetap penting dan tidak boleh digantikan hanya dengan pemakaian masker.

h. Pakaian kerja dan rompi visibilitas tinggi

Pakaian kerja berfungsi membantu melindungi tubuh dari kondisi kerja tertentu. Pakaian harus sesuai dengan jenis pekerjaan dan tidak memiliki bagian longgar yang berisiko tersangkut mesin.

Rompi visibilitas tinggi digunakan agar keberadaan seseorang lebih mudah terlihat, khususnya di area dengan kendaraan atau alat berat yang bergerak.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

    • Gunakan pakaian yang sesuai dengan kondisi lapangan.
    • Pastikan rompi bersih dan bagian reflektifnya masih berfungsi.
    • Hindari aksesori atau pakaian longgar di dekat bagian mesin bergerak.
    • Ikuti persyaratan pakaian kerja dan identifikasi personel di lokasi kerja.

Rompi visibilitas tinggi membantu meningkatkan keterlihatan, tetapi tidak menggantikan pemisahan jalur kendaraan dan pejalan kaki atau pengaturan lalu lintas yang aman.

i. Pelindung tubuh khusus

Pekerjaan tertentu dapat memerlukan pelindung tubuh tambahan, misalnya pakaian tahan bahan kimia atau perlengkapan khusus untuk kondisi kerja tertentu.

Perlengkapan ini harus dipilih berdasarkan penilaian risiko, karakteristik bahaya, petunjuk produsen, dan prosedur tempat kerja. Murid tidak boleh menentukan sendiri penggunaan perlindungan khusus tanpa arahan guru atau petugas yang kompeten.

j. Perlengkapan pelindung jatuh

Pada pekerjaan di ketinggian, sistem perlindungan jatuh dapat diperlukan sesuai hasil penilaian risiko dan peraturan yang berlaku. Sistem tersebut dapat mencakup sabuk tubuh atau <em>full-body harness</em>, penghubung, dan titik penambat yang sesuai.

Penggunaan perlengkapan ini memerlukan pelatihan, pemeriksaan, sistem yang dirancang dengan benar, dan prosedur penyelamatan. Perlengkapan pelindung jatuh bukan sekadar sabuk yang dipasang pada sembarang titik.

Murid tidak boleh melakukan praktik bekerja di ketinggian atau menguji perlengkapan tersebut tanpa fasilitas, pelatihan, pengawasan, dan prosedur yang memenuhi persyaratan keselamatan.

4. Pemilihan APD Berdasarkan Bahaya dan Kegiatan

APD harus dipilih berdasarkan bahaya yang telah diidentifikasi. Tidak semua pekerjaan membutuhkan jenis APD yang sama, dan satu jenis APD tidak dapat melindungi tubuh dari semua bahaya.

Contoh pemilihan APD dapat dilihat pada tabel berikut.

Kegiatan

Contoh bahaya

Contoh APD yang mungkin diperlukan

Pengamatan singkapan batuan

Benturan, permukaan tajam, medan tidak rata

Helm keselamatan, sepatu keselamatan, dan APD lain sesuai penilaian risiko

Pengambilan sampel batuan

Serpihan batuan, permukaan tajam, debu

Pelindung mata, sarung tangan yang sesuai, sepatu keselamatan, dan pelindung pernapasan jika diperlukan

Pemboran eksplorasi

Kebisingan, debu, bagian mesin bergerak, kendaraan

Helm, sepatu keselamatan, pelindung pendengaran, pelindung pernapasan, dan perlengkapan lain sesuai bahaya

Pengukuran lapangan

Medan tidak rata, cuaca, lalu lintas kendaraan

Sepatu yang sesuai, pakaian atau rompi visibilitas tinggi jika diperlukan, serta perlengkapan lain sesuai kondisi

Preparasi sampel

Serpihan, debu, kebisingan, peralatan mekanis

Pelindung mata, pelindung pendengaran atau pernapasan sesuai paparan, dan APD lain yang dipersyaratkan

Praktik pemindahan tanah mekanis sederhana

Alat tajam, material terlempar, jalur angkut

Sepatu yang sesuai, pakaian kerja, dan pelindung lain sesuai hasil identifikasi bahaya serta arahan guru

Penanganan bahan kimia

Percikan atau kontak bahan kimia

Pelindung mata, sarung tangan, pakaian pelindung, atau perlengkapan lain yang kompatibel dengan bahan

Tabel tersebut merupakan contoh pembelajaran, bukan daftar APD wajib untuk semua lokasi. Penentuan akhir harus mempertimbangkan kondisi aktual, hasil penilaian risiko, standar alat, dan ketentuan yang berlaku.

Prinsip utamanya adalah memilih APD berdasarkan bahaya, bukan menggunakan APD hanya karena tersedia.

5. Pemeriksaan APD Sebelum Digunakan

APD yang rusak, tidak sesuai ukuran, atau tidak cocok dengan jenis bahaya dapat mengurangi perlindungan. Oleh sebab itu, pemeriksaan harus dilakukan sebelum digunakan.

Pemeriksaan APD dapat mencakup hal-hal berikut.

  1. Memeriksa kondisi fisik
    • Periksa apakah terdapat retakan, sobekan, deformasi, bagian yang lepas, korosi, atau kerusakan lain yang dapat memengaruhi fungsi perlindungan.
  2. Memeriksa kelengkapan
    • Pastikan seluruh bagian yang diperlukan tersedia dan terpasang dengan benar. Misalnya, helm harus memiliki komponen yang sesuai dengan rancangan dan petunjuk produsennya.
  3. Memeriksa kebersihan
    • APD harus bersih sesuai jenis dan penggunaannya. Kontaminasi tertentu dapat membahayakan pengguna atau mengurangi efektivitas alat.
  4. Memeriksa ukuran dan kesesuaian
    • APD harus pas dan tidak mengganggu penglihatan, pergerakan, pernapasan, atau fungsi pekerjaan.
  5. Memeriksa masa pakai dan petunjuk produsen
    • Untuk APD tertentu, usia pakai, kondisi penyimpanan, paparan bahan, atau riwayat benturan dapat memengaruhi kelayakan penggunaan. Ikuti petunjuk produsen dan ketentuan tempat kerja.
  6. Memastikan APD sesuai dengan bahaya
    • APD yang kondisinya baik belum tentu tepat untuk pekerjaan yang akan dilakukan. Sebagai contoh, sarung tangan yang dirancang untuk pekerjaan umum belum tentu cocok untuk menangani bahan kimia tertentu.
  7. Melaporkan APD yang tidak layak
    • Jika APD rusak, tidak lengkap, atau tidak sesuai, jangan menggunakannya. Laporkan kepada guru atau petugas yang berwenang dan minta penggantian atau penanganan sesuai prosedur.

Pemeriksaan sebelum digunakan bukan sekadar formalitas. Pemeriksaan membantu memastikan bahwa perlengkapan yang dipakai masih layak dan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

6. Tata Cara Umum Penggunaan APD

Setiap jenis APD memiliki tata cara penggunaan yang berbeda. Karena itu, petunjuk produsen, pelatihan, dan SOP tetap menjadi acuan utama.

Secara umum, langkah penggunaan APD dapat dilakukan sebagai berikut.

Langkah 1: Memahami pekerjaan dan bahaya

Sebelum memakai APD, pahami pekerjaan yang akan dilakukan dan bahaya yang mungkin ditemukan.

Langkah 2: Menentukan APD yang dibutuhkan

Pilih APD berdasarkan hasil identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan ketentuan tempat kerja.

Langkah 3: Melakukan pemeriksaan APD

Pastikan alat bersih, lengkap, tidak rusak, dan sesuai untuk pekerjaan.

Langkah 4: Memakai APD sesuai petunjuk

Kenakan APD dengan urutan dan cara yang benar sesuai jenisnya. Pastikan posisi, ukuran, dan pengikatannya sesuai rancangan alat.

Langkah 5: Melakukan pemeriksaan akhir

Periksa kembali apakah seluruh APD terpasang dengan benar, nyaman, dan tidak mengganggu fungsi perlindungan. Pemeriksaan dapat dilakukan sendiri dan, jika diperlukan, dibantu oleh rekan atau petugas sesuai prosedur.

Langkah 6: Mengikuti arahan sebelum bekerja

Pastikan telah mengikuti safety briefing dan memahami prosedur, pembagian tugas, jalur aman, serta tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan tidak aman.

Langkah 7: Memantau kondisi selama bekerja

Jika APD bergeser, rusak, terkontaminasi, atau tidak lagi memberikan perlindungan yang sesuai, hentikan kegiatan sesuai prosedur dan lakukan penanganan yang benar.

Langkah 8: Melepas dan menyimpan APD dengan benar

Setelah pekerjaan selesai, lepaskan APD sesuai petunjuk. Bersihkan, periksa, dan simpan sesuai ketentuan. APD yang terkontaminasi harus ditangani sesuai jenis kontaminan dan prosedur yang berlaku.

7. Perawatan, Penyimpanan, dan Penggantian APD

APD memerlukan perawatan agar fungsinya tetap terjaga. Cara perawatan berbeda untuk setiap jenis alat sehingga petunjuk produsen harus diikuti.

Beberapa prinsip umum perawatan APD adalah sebagai berikut.

    1. Bersihkan APD sesuai petunjuk dan jenis materialnya.
    2. Jangan menggunakan bahan pembersih yang dapat merusak material APD.
    3. Simpan APD di tempat yang bersih, kering, dan terlindung dari kondisi yang dapat merusaknya.
    4. Hindari menumpuk atau menekan APD dengan cara yang dapat mengubah bentuknya.
    5. Pisahkan APD yang bersih dari APD yang kotor atau terkontaminasi.
    6. Periksa kondisi APD secara berkala sesuai ketentuan.
    7. Ganti APD yang rusak, tidak layak, atau telah mencapai batas penggunaan sesuai petunjuk produsen dan prosedur.
    8. Jangan memodifikasi APD tanpa persetujuan dan ketentuan teknis yang sesuai.

Sebagai contoh, helm keselamatan tidak boleh dicat, dibor, atau dimodifikasi sembarangan karena tindakan tersebut dapat memengaruhi kemampuan perlindungannya. Respirator juga harus dirawat sesuai petunjuk agar bagian penyaring dan komponen lainnya tetap berfungsi.

APD bukan perlengkapan yang dapat digunakan tanpa batas waktu. Kondisinya harus selalu diperhatikan agar perlindungan yang diberikan tetap sesuai dengan tujuan penggunaannya.

8. Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Penggunaan APD

Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam penggunaan APD antara lain:

a. Menggunakan APD hanya untuk memenuhi formalitas

APD dipakai sekadar agar terlihat mematuhi aturan, tetapi tidak diperiksa atau tidak dipasang dengan benar.

b. Memilih APD tanpa mempertimbangkan bahaya

APD yang tersedia langsung digunakan tanpa memastikan apakah sesuai dengan pekerjaan.

c. Menggunakan APD yang rusak

APD tetap digunakan meskipun retak, sobek, tidak lengkap, atau tidak lagi layak.

d. Menganggap APD dapat menghilangkan semua bahaya

Pengguna merasa aman hanya karena telah memakai APD, lalu mengabaikan kondisi lingkungan atau prosedur kerja.

e. Mengabaikan petunjuk penggunaan

APD digunakan dengan cara yang salah, misalnya respirator yang tidak terpasang sesuai petunjuk atau pelindung mata yang tidak memberikan cakupan perlindungan yang dibutuhkan.

f. Saling meminjam APD tanpa memperhatikan kebersihan dan kecocokan

APD tertentu membutuhkan penyesuaian ukuran, kebersihan khusus, atau penggunaan individual. Pemakaian bersama harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

g. Tidak melaporkan kerusakan

Pengguna mengetahui APD rusak, tetapi tetap menggunakannya atau membiarkannya digunakan oleh orang lain.

Kesalahan tersebut dapat dikurangi melalui pembiasaan, pemeriksaan rutin, pengarahan, pengawasan, dan tanggung jawab setiap pengguna.

9. Penerapan Bekerja Aman dan APD dalam Kegiatan Teknik Geologi Pertambangan

a. Pengamatan singkapan batuan

Sebelum pengamatan, murid harus memahami kondisi lokasi, jalur yang diizinkan, potensi runtuhan, dan arahan pendamping. APD dipilih sesuai bahaya, tetapi murid tetap harus menjauhi lereng atau batuan yang tidak stabil.

b. Pemetaan geologi

Kegiatan pemetaan dapat melibatkan perjalanan melalui medan tidak rata, vegetasi, lereng, dan kondisi cuaca yang berubah. Murid perlu menggunakan perlengkapan yang sesuai, menjaga komunikasi kelompok, mengikuti jalur yang diizinkan, dan tidak melanjutkan kegiatan jika kondisi tidak aman.

c. Pengambilan sampel

Murid harus memahami potensi bahaya dari batuan tajam, serpihan, debu, dan alat yang digunakan. APD harus sesuai dengan bahaya, sedangkan teknik pengambilan sampel dan penggunaan peralatan harus mengikuti arahan serta prosedur.

d. Kunjungan industri

Sebelum memasuki area industri, murid harus mengikuti safety briefing dan mematuhi ketentuan APD yang ditetapkan oleh perusahaan. Penggunaan APD tidak memberikan izin untuk memasuki zona terbatas atau mendekati peralatan yang sedang beroperasi.

Murid harus mengikuti pendamping dan petugas lokasi, menjaga jarak aman, serta segera melaporkan kondisi yang dianggap berbahaya.

e. Pemboran eksplorasi

Kegiatan pemboran dapat melibatkan mesin bergerak, komponen berputar, kebisingan, debu, kendaraan, serta material dan fluida tertentu. Pemilihan APD harus mengikuti penilaian risiko dan prosedur di lokasi.

Murid yang melakukan kunjungan tidak boleh menyentuh atau mengoperasikan mesin tanpa kewenangan, kompetensi, dan pengawasan yang sesuai.

f. Praktik pemindahan tanah mekanis dengan peralatan sederhana

Dalam simulasi praktik di sekolah, cangkul dapat digunakan sebagai analogi alat gali, sekop sebagai analogi alat muat, dan lory atau gerobak sebagai analogi alat angkut.

Potensi bahaya dapat berasal dari ujung alat yang tajam, material yang terlempar, jalur angkut yang tidak rata, serta gerakan anggota kelompok yang tidak terkoordinasi.

Sebelum praktik, guru dan murid perlu memastikan area aman, alat layak digunakan, pembagian tugas jelas, dan APD sesuai dengan bahaya yang telah diidentifikasi. Selama praktik, murid harus menjaga jarak kerja, berkomunikasi, serta mengikuti instruksi guru.

Jika terdapat alat rusak, anggota kelompok memasuki jalur angkut tanpa koordinasi, atau kondisi area berubah menjadi tidak aman, kegiatan harus dihentikan sementara dan dilaporkan.

g. Praktik di laboratorium

Murid harus memahami bahaya dari alat, sampel, bahan kimia, debu, atau peralatan mekanis yang digunakan. APD harus sesuai dengan karakteristik kegiatan dan bahan. Instruksi guru serta prosedur laboratorium harus dipatuhi, termasuk tata cara menangani tumpahan atau material sisa.

10. Sikap Bertanggung Jawab terhadap Keselamatan

Penggunaan APD yang benar harus disertai sikap dan perilaku kerja yang bertanggung jawab.

Murid perlu membangun kebiasaan berikut:

    1. Memakai APD sesuai ketentuan tanpa harus selalu diingatkan.
    2. Memeriksa APD sebelum digunakan.
    3. Tidak menggunakan APD yang rusak atau tidak sesuai.
    4. Mematuhi instruksi guru, pendamping, dan petugas yang berwenang.
    5. Mengingatkan rekan secara sopan apabila terdapat kondisi yang berpotensi membahayakan.
    6. Melaporkan bahaya dan kerusakan alat.
    7. Tidak bercanda atau melakukan tindakan yang mengganggu konsentrasi di area kerja.
    8. Menghentikan kegiatan sesuai prosedur ketika kondisi tidak aman.
    9. Menjaga kebersihan dan merawat APD setelah digunakan.
    10. Menyadari bahwa keselamatan diri berkaitan dengan keselamatan orang lain.

Budaya keselamatan tidak terbentuk hanya dengan menyediakan APD. Budaya tersebut berkembang ketika setiap orang memahami alasan penggunaan APD, mengetahui batas perlindungannya, mengikuti prosedur, dan berani melaporkan bahaya.

Rangkuman

  1. Bekerja aman berarti melaksanakan pekerjaan sesuai prosedur dengan memperhatikan bahaya, pengendalian risiko, dan keselamatan semua pihak.
  2. APD merupakan perlengkapan untuk melindungi bagian tubuh dari bahaya tertentu sesuai fungsi dan spesifikasinya.
  3. Jenis APD meliputi helm keselamatan, sepatu keselamatan, pelindung mata dan wajah, sarung tangan, pelindung pendengaran, pelindung pernapasan, pakaian kerja, serta perlengkapan khusus sesuai bahaya.
  4. Pemilihan APD harus berdasarkan identifikasi bahaya, penilaian risiko, persyaratan pekerjaan, dan ketentuan tempat kerja.
  5. APD harus diperiksa sebelum digunakan untuk memastikan kondisi, kelengkapan, ukuran, dan kesesuaiannya.
  6. APD yang rusak atau tidak sesuai tidak boleh digunakan dan harus dilaporkan untuk mendapatkan penanganan yang benar.
  7. Penggunaan APD tidak menggantikan kebutuhan menghilangkan bahaya atau menerapkan pengendalian risiko lain yang lebih efektif.
  8. Perawatan, penyimpanan, dan penggantian APD harus mengikuti petunjuk produsen serta prosedur yang berlaku.
  9. Bekerja aman membutuhkan kedisiplinan, komunikasi, kepatuhan terhadap prosedur, dan tanggung jawab bersama.
  10. Dalam kegiatan Teknik Geologi Pertambangan, APD harus digunakan bersama tindakan pengendalian bahaya dan perilaku kerja yang aman.

Latihan Soal

I. Pilihan Ganda

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1. Tujuan utama penggunaan APD adalah ....

A. Menghilangkan seluruh bahaya di tempat kerja
B. Menggantikan semua prosedur kerja
C. Mempercepat pekerjaan tanpa pemeriksaan
D. Membantu melindungi tubuh dari bahaya sesuai fungsi APD
E. Menggantikan pengawasan dari petugas

2. Sebelum menggunakan APD, tindakan yang paling tepat adalah ....

A. Langsung memakainya tanpa pemeriksaan
B. Memeriksa kondisi, kelengkapan, kesesuaian, dan ukuran APD
C. Meminjam APD apa saja yang tersedia
D. Menggunakan APD yang paling mudah ditemukan
E. Memodifikasi APD agar lebih nyaman tanpa mengikuti petunjuk

3. APD yang umumnya digunakan untuk membantu melindungi kepala dari bahaya benturan tertentu adalah ....

A. Rompi visibilitas tinggi
B. Pelindung pendengaran
C. Sarung tangan
D. Sepatu keselamatan
E. Helm keselamatan

4. Dalam kegiatan preparasi sampel yang menghasilkan serpihan batuan, perlindungan yang tepat untuk mata adalah ....

A. Kacamata keselamatan yang sesuai dengan bahaya
B. Topi biasa
C. Rompi visibilitas tinggi saja
D. Sepatu biasa
E. Masker kain tanpa perlindungan mata

5. Pemilihan sarung tangan untuk menangani bahan kimia harus mempertimbangkan ....

A. Warna sarung tangan saja
B. Harga sarung tangan saja
C. Kesesuaian material sarung tangan dengan bahan kimia dan bahaya yang dihadapi
D. Ukuran yang paling longgar
E. Kebiasaan pengguna tanpa memperhatikan petunjuk

6. Jika menemukan helm keselamatan yang retak, tindakan yang benar adalah ....

A. Tetap menggunakannya selama kegiatan singkat
B. Menutup retakan dengan perekat biasa
C. Meminjamkannya kepada teman
D. Tidak menggunakannya dan melaporkan untuk penggantian atau penanganan sesuai prosedur
E. Menggunakannya hanya di luar ruangan

7. Pernyataan yang tepat mengenai APD adalah ....

A. APD menghilangkan semua bahaya sehingga prosedur tidak diperlukan
B. APD merupakan salah satu bagian dari pengendalian risiko dan harus digunakan bersama pengendalian lain yang diperlukan
C. Semua pekerjaan harus menggunakan jenis APD yang sama
D. APD yang nyaman pasti sesuai untuk semua bahaya
E. APD tidak perlu diperiksa apabila baru dibeli

8. Pelindung pendengaran digunakan untuk membantu mengurangi paparan ....

A. Batuan tajam
B. Permukaan licin
C. Percikan bahan kimia pada mata
D. Benda jatuh
E. Kebisingan yang berisiko terhadap pendengaran

9. Ketika APD tidak tersedia atau tidak sesuai dengan bahaya pekerjaan, murid sebaiknya ....

A. Tetap bekerja agar target selesai
B. Mengganti APD dengan benda apa saja yang tersedia
C. Menghentikan atau tidak memulai kegiatan sesuai prosedur dan melapor kepada guru atau petugas yang berwenang
D. Menggunakan APD milik orang lain tanpa memeriksa kesesuaian dan kebersihannya
E. Mengabaikan bahaya karena kegiatan hanya berlangsung sebentar

10. Salah satu contoh perilaku bertanggung jawab terhadap keselamatan adalah ....

A. Melaporkan APD rusak dan tidak menggunakannya sampai ditangani dengan benar
B. Menyembunyikan kerusakan APD agar kegiatan tetap berjalan
C. Mengabaikan instruksi keselamatan
D. Bercanda di dekat alat yang sedang digunakan
E. Membiarkan rekan bekerja dalam kondisi tidak aman

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas!

  1. Jelaskan pengertian APD dan uraikan sekurang-kurangnya lima jenis APD beserta fungsinya.
  2. Mengapa APD harus dipilih berdasarkan bahaya dan jenis pekerjaan? Berikan tiga contoh penerapannya dalam Teknik Geologi Pertambangan.
  3. Jelaskan langkah-langkah pemeriksaan APD sebelum digunakan.
  4. Apa yang harus dilakukan apabila murid menemukan APD yang rusak atau tidak sesuai dengan bahaya pekerjaan? Jelaskan alasannya.
  5. Sebuah kelompok akan melakukan praktik pemindahan tanah mekanis sederhana di sekolah. Identifikasilah sekurang-kurangnya tiga potensi bahaya dan jelaskan tindakan bekerja aman yang perlu diterapkan sebelum dan selama praktik.

Penutup

Bekerja aman merupakan kebiasaan yang harus dibangun sejak pembelajaran di sekolah. Dalam Teknik Geologi Pertambangan, keterampilan menggunakan alat dan memahami proses kerja harus disertai kemampuan mengenali bahaya, memilih pengendalian yang tepat, dan mematuhi prosedur keselamatan.

APD merupakan salah satu perlindungan penting, tetapi efektivitasnya bergantung pada pemilihan, kondisi, kesesuaian, dan cara penggunaan. Karena itu, setiap murid perlu membiasakan diri memeriksa APD sebelum digunakan, melaporkan kerusakan, serta tidak memaksakan pekerjaan ketika kondisi tidak aman.

Keselamatan juga bukan hanya tanggung jawab individu. Komunikasi, kerja sama, pengawasan, dan kepedulian terhadap rekan merupakan bagian dari budaya kerja yang baik. Dengan membangun kebiasaan tersebut, murid dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti praktik, kunjungan industri, PKL, dan pekerjaan di bidang Teknik Geologi Pertambangan secara lebih bertanggung jawab.

Ingatlah: APD yang tepat harus digunakan dengan benar, tetapi keselamatan tetap dimulai dari mengenali bahaya, mengikuti prosedur, dan mengendalikan risiko.

Pada DTGP Part 6, pembahasan akan dilanjutkan dengan materi Budaya Kerja Industri 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin, sebagai bagian dari pembentukan lingkungan kerja yang tertib, bersih, aman, dan produktif.

Mari terus belajar, membangun kompetensi, bekerja dengan aman, dan menjaga lingkungan bersama GO-SINARBULAN.COM.

Semoga Bermanfaat🙏

Sumber Referensi

  1. Capaian Pembelajaran Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan, Fase E, elemen Kecakapan Kerja Dasar, K3LH, dan Budaya Kerja.
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  4. Ketentuan dan standar yang berlaku mengenai alat pelindung diri, sesuai jenis pekerjaan dan tempat kerja.
  5. Petunjuk penggunaan, pemeriksaan, perawatan, dan penyimpanan APD dari produsen.
  6. SOP, instruksi kerja, dan prosedur keselamatan yang berlaku di sekolah maupun tempat kerja.

Catatan: 

  • Materi ini merupakan pengantar pembelajaran. Pemilihan dan penggunaan APD untuk pekerjaan nyata harus mengikuti hasil penilaian risiko, persyaratan teknis alat, peraturan yang berlaku, serta prosedur dan arahan pihak yang berwenang.
  • Bagi yang ingin mengerjakan latihan soal, silahkan kirim jawabannya di kolom komentar🙏


Post a Comment for "DTGP Part 5: Bekerja Aman & Penggunaan APD dalam Teknik Geologi Pertambangan"