DTGP Part 2: Standar, Peraturan, dan Prosedur Kerja Industri Pertambangan
![]() |
| DTGP Part 2: Standar, Peraturan, dan Prosedur Kerja Industri Pertambangan |
GO-SINARBULAN.COM: Belajar Geologi, Membangun Kompetensi, Bekerja dengan Aman, dan Menjaga Lingkungan. Pada kesempatan ini, materi yang akan dimuat adalah Standar, Peraturan, dan Prosedur Kerja Industri Pertambangan. Materi dibuat lebih ringan agar lebih mudah dipahami oleh murid SMK dengan Konsentrasi Keahlian Teknik Geologi Pertambangan untuk mata Pelajaran Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan (DTGP), Elemen Kecakapan Kerja Dasar, K3LH, dan Budaya Kerja Industri.
A. Pendahuluan
Dalam dunia kerja, khususnya bidang Teknik Geologi
Pertambangan, setiap pekerjaan harus dilaksanakan berdasarkan standar,
peraturan, dan prosedur yang berlaku. Pekerjaan seperti pengamatan singkapan
batuan, pengambilan sampel, pengukuran lapangan, pemboran eksplorasi, hingga
kegiatan penambangan memiliki ketentuan yang harus dipahami dan dipatuhi oleh
setiap pekerja.
Ketentuan tersebut bukan sekadar formalitas atau dokumen
administrasi. Standar, peraturan, dan prosedur kerja menjadi pedoman agar
pekerjaan dilaksanakan secara benar, aman, tertib, efisien, serta memperhatikan
kelestarian lingkungan.
Sebagai murid kelas X Fase E pada Konsentrasi Keahlian
Teknik Geologi Pertambangan, pemahaman terhadap ketiga hal tersebut perlu
dibangun sejak mengikuti pembelajaran di sekolah. Kebiasaan menaati tata
tertib, mengikuti petunjuk guru, menggunakan peralatan sesuai fungsinya, dan
mematuhi ketentuan keselamatan merupakan langkah awal untuk mempersiapkan diri
memasuki dunia kerja.
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, murid diharapkan mampu:
- Menjelaskan
pengertian standar, peraturan, dan prosedur kerja.
- Mengidentifikasi
jenis dan fungsi ketentuan yang digunakan dalam lingkungan kerja.
- Menjelaskan
pentingnya kepatuhan terhadap standar, peraturan, dan prosedur kerja.
- Mengidentifikasi
contoh penerapannya dalam kegiatan Teknik Geologi Pertambangan.
- Menunjukkan
perilaku disiplin dan bertanggung jawab dalam mengikuti ketentuan kerja.
C. Materi Pokok
- Pengertian
standar, peraturan, dan prosedur kerja.
- Jenis
dan hierarki ketentuan kerja.
- Fungsi
dan manfaat standar, peraturan, dan prosedur kerja.
- Penerapan
ketentuan kerja dalam Teknik Geologi Pertambangan.
- Tanggung
jawab terhadap kepatuhan dan pelaporan penyimpangan kerja.
D. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Standar, Peraturan, dan Prosedur Kerja
Standar, peraturan, dan prosedur kerja merupakan tiga hal
yang saling berkaitan, tetapi memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda.
a. Standar kerja
Standar kerja adalah ketentuan atau acuan yang digunakan untuk menentukan tingkat mutu, ketepatan, keselamatan, atau hasil yang diharapkan dari suatu pekerjaan.
Standar membantu pekerja mengetahui kriteria pekerjaan yang dapat diterima. Dalam bidang Teknik Geologi Pertambangan, standar dapat berkaitan dengan ketelitian pengukuran, pencatatan data lapangan, pengambilan dan pelabelan sampel, penggunaan peralatan, serta persyaratan keselamatan.
Contohnya, dalam kegiatan pengambilan sampel batuan, murid harus memastikan bahwa sampel diberi identitas yang jelas dan data lokasinya dicatat dengan benar sesuai petunjuk kerja. Hal ini membantu menjaga ketertelusuran sampel dan mengurangi risiko tertukarnya data.
b. Peraturan kerja
Peraturan kerja adalah ketentuan yang mengatur perilaku, kewajiban, larangan, dan tanggung jawab seseorang atau kelompok dalam lingkungan kerja.
Peraturan dapat berasal dari peraturan perundang-undangan, ketentuan pemerintah, ketentuan perusahaan, maupun tata tertib yang berlaku di sekolah atau tempat praktik. Setiap ketentuan harus dipatuhi sesuai ruang lingkup dan kewenangannya.
Contohnya, pekerja wajib mematuhi ketentuan keselamatan yang berlaku, sedangkan murid harus menaati tata tertib laboratorium, mengikuti instruksi keselamatan, dan tidak memasuki area praktik yang dilarang.
c. Prosedur kerja
Prosedur kerja adalah urutan langkah yang harus diikuti untuk melaksanakan suatu pekerjaan secara benar, konsisten, dan aman.
Prosedur dapat dituangkan dalam dokumen, instruksi kerja, atau petunjuk pelaksanaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan. Di lingkungan industri, prosedur yang telah ditetapkan perusahaan sering dikenal sebagai Standard Operating Procedure (SOP) atau prosedur operasional standar.
Contohnya, sebelum menggunakan alat ukur di lapangan, murid harus mengikuti petunjuk guru, memeriksa kondisi alat, memastikan lokasi aman, menggunakan alat sesuai fungsinya, mencatat hasil pengukuran, dan mengembalikan peralatan setelah selesai.
Dengan demikian, standar menjelaskan acuan atau kriteria yang harus dicapai, peraturan mengatur ketentuan yang wajib dipatuhi, sedangkan prosedur menjelaskan langkah-langkah untuk melaksanakan pekerjaan.
2. Jenis dan Hierarki Ketentuan Kerja
Dalam dunia kerja, ketentuan yang digunakan tidak hanya
berasal dari satu sumber. Pekerja perlu memahami sumber dan kedudukan setiap
ketentuan agar tidak keliru dalam penerapannya.
Secara umum, ketentuan kerja dapat dikelompokkan menjadi
beberapa jenis berikut.
a. Peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan merupakan ketentuan hukum yang ditetapkan oleh lembaga atau pejabat berwenang. Ketentuan ini menjadi landasan bagi pelaksanaan kegiatan usaha, termasuk keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.
Contohnya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang mengatur prinsip dan kewajiban keselamatan kerja dalam ruang lingkup yang diatur di dalamnya.
b. Ketentuan teknis dan standar yang relevan
Ketentuan teknis dan standar digunakan sebagai acuan untuk memastikan pekerjaan memenuhi persyaratan tertentu. Standar dapat berasal dari ketentuan resmi pemerintah, standar nasional, standar teknis yang diakui, atau standar lain yang diwajibkan maupun diadopsi oleh organisasi.
Dalam pekerjaan geologi, contohnya dapat berupa ketentuan mengenai pencatatan data pengukuran, pengelolaan sampel, pemeliharaan alat, atau pengendalian mutu pekerjaan.
Penerapan suatu standar harus memperhatikan apakah standar tersebut memang diwajibkan oleh peraturan, dipersyaratkan dalam kontrak, atau digunakan sebagai acuan teknis oleh organisasi.
c. Peraturan dan kebijakan perusahaan
Perusahaan menetapkan ketentuan internal untuk mengatur pelaksanaan pekerjaan, pembagian tanggung jawab, penggunaan fasilitas, keselamatan, dan perlindungan lingkungan.
Ketentuan tersebut harus sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak boleh digunakan untuk membenarkan tindakan yang melanggar hukum.
Contohnya, perusahaan dapat menetapkan kewajiban mengikuti pengarahan keselamatan sebelum memasuki area kerja, ketentuan pelaporan kondisi tidak aman, serta pembatasan akses ke area operasional tertentu.
d. SOP dan Instruksi Kerja
SOP dan instruksi kerja memberikan panduan operasional yang lebih terperinci.
SOP biasanya menjelaskan alur pelaksanaan suatu kegiatan, pembagian tanggung jawab, dan pengendalian yang diperlukan. Sementara itu, instruksi kerja dapat menjelaskan cara melakukan tugas tertentu secara lebih rinci.
Contohnya adalah SOP pengambilan sampel, instruksi penggunaan alat ukur, prosedur pemeriksaan peralatan, dan prosedur pelaporan insiden.
e. Tata tertib sekolah dan aturan praktik
Dalam pembelajaran di sekolah, murid juga harus mematuhi tata tertib, petunjuk guru, dan prosedur keselamatan yang berlaku di kelas, laboratorium, bengkel, atau lokasi praktik.
Ketentuan ini merupakan sarana pembiasaan perilaku kerja yang baik. Walaupun kegiatan dilakukan dengan peralatan sederhana, prinsip keselamatan dan tanggung jawab tetap harus diterapkan.
Perlu dipahami bahwa daftar di atas merupakan pengelompokan berdasarkan fungsi. Tidak semua jenis ketentuan tersebut merupakan tingkatan hukum yang setara. Peraturan perundang-undangan memiliki kedudukan hukum sesuai sistem peraturan yang berlaku, sedangkan standar, kebijakan internal, SOP, dan tata tertib diterapkan sesuai ruang lingkup serta kewenangannya.
3. Fungsi dan Manfaat Standar, Peraturan, dan Prosedur
Kerja
Kepatuhan terhadap ketentuan kerja memberikan manfaat bagi
pekerja, perusahaan, lingkungan, dan masyarakat.
a. Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja
Ketentuan kerja membantu mengendalikan potensi bahaya yang dapat menyebabkan cedera, gangguan kesehatan, kerusakan alat, atau kecelakaan.
Sebagai contoh, pemeriksaan kondisi alat sebelum digunakan dapat membantu menemukan kerusakan lebih awal. Kepatuhan terhadap pembatasan akses juga dapat mencegah seseorang memasuki area berbahaya tanpa izin.
b. Menjaga mutu dan ketepatan hasil pekerjaan
Pekerjaan yang dilaksanakan dengan standar dan prosedur yang sesuai akan lebih konsisten dan dapat diperiksa kembali.
Dalam pengambilan sampel batuan, misalnya, pencatatan lokasi, pemberian kode, pelabelan, dan penyimpanan yang benar membantu menjaga keakuratan informasi sampel.
c. Meningkatkan efisiensi kerja
Prosedur yang jelas membantu pekerja memahami urutan kegiatan, alat yang dibutuhkan, serta tanggung jawab masing-masing. Dengan demikian, pekerjaan dapat berlangsung lebih teratur dan mengurangi kesalahan yang menyebabkan pengulangan pekerjaan.
d. Menegaskan tanggung jawab
Ketentuan kerja membantu menjelaskan siapa yang melaksanakan tugas, siapa yang memberikan arahan, siapa yang memeriksa hasil, dan kepada siapa masalah harus dilaporkan.
Pembagian tanggung jawab yang jelas mengurangi kebingungan ketika terjadi kendala.
e. Menjaga lingkungan
Prosedur kerja dapat mengatur pengelolaan sampah, penyimpanan bahan, pencegahan tumpahan, pengendalian debu, dan penanganan limbah sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam kegiatan praktik geologi, murid harus menjaga lokasi tetap bersih, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengikuti petunjuk pengelolaan sisa material.
f. Membentuk sikap profesional
Murid yang terbiasa mengikuti aturan, bekerja sesuai prosedur, dan melaporkan masalah dengan jujur akan lebih siap menghadapi tuntutan dunia kerja.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari cara pekerjaan dilakukan.
4. Penerapan dalam Teknik Geologi Pertambangan
Standar, peraturan, dan prosedur kerja diterapkan dalam
berbagai kegiatan di bidang Teknik Geologi Pertambangan. Penerapannya harus
disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kondisi lapangan, peralatan yang digunakan,
serta ketentuan keselamatan yang berlaku.
a. Pengamatan geologi lapangan
Ketika melakukan pengamatan singkapan batuan, murid harus mengikuti arahan pembimbing, menggunakan perlengkapan yang sesuai, menjaga jarak dari tebing atau lereng yang tidak stabil, dan mencatat hasil pengamatan secara sistematis.
Murid tidak boleh memasuki area yang dilarang atau mendekati lokasi berbahaya hanya untuk memperoleh foto atau sampel.
b. Pengukuran menggunakan alat
Dalam praktik pengukuran, misalnya menggunakan kompas geologi atau alat ukur lainnya, murid harus memeriksa kondisi peralatan, memahami cara penggunaannya, mengikuti instruksi, dan mencatat hasil pengukuran dengan benar.
Apabila alat mengalami kerusakan atau hasil pengukuran tidak wajar, murid harus melaporkannya kepada guru atau pembimbing. Alat tidak boleh dipaksakan penggunaannya apabila berpotensi menimbulkan bahaya atau menghasilkan data yang tidak dapat dipercaya.
c. Pengambilan dan pengelolaan sampel
Pengambilan sampel harus dilakukan sesuai arahan dan prosedur yang berlaku. Sampel perlu diberi identitas yang jelas, dicatat asalnya, serta ditangani dengan cara yang sesuai.
Murid juga harus menggunakan alat yang tepat, menjaga keselamatan selama pengambilan sampel, dan tidak mengambil material dari lokasi yang tidak diizinkan.
d. Kunjungan industri dan pemboran eksplorasi
Saat mengikuti kunjungan industri, murid harus mematuhi arahan petugas, mengikuti safety briefing, menggunakan APD yang dipersyaratkan, dan tetap berada di area yang diizinkan.
Pada lokasi pemboran eksplorasi, misalnya, terdapat peralatan bergerak, komponen berputar, material yang dapat terlempar, serta potensi bahaya lain. Murid tidak boleh menyentuh mesin, melewati pembatas, atau mendekati titik operasi tanpa izin dan pengawasan yang sesuai.
e. Praktik pemindahan tanah mekanis dengan peralatan
sederhana
Dalam simulasi pemindahan tanah mekanis di sekolah, murid dapat menggunakan cangkul sebagai analogi alat gali, sekop sebagai analogi alat muat, dan lory atau gerobak sebagai analogi alat angkut.
Walaupun menggunakan peralatan sederhana, murid tetap harus mengikuti pembagian tugas, memeriksa kondisi alat, menjaga jarak aman, menggunakan APD yang sesuai, serta mengikuti arahan guru.
Murid juga perlu menjaga jalur angkut agar tidak mengganggu kelompok lain. Jika terjadi kondisi tidak aman, kegiatan harus dihentikan sementara dan dilaporkan kepada guru untuk ditangani.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa penerapan ketentuan kerja tidak bergantung pada mahal atau sederhananya peralatan. Yang terpenting adalah pekerjaan dilaksanakan sesuai arahan, prosedur, dan prinsip keselamatan.
5. Tanggung Jawab terhadap Kepatuhan dan Penyimpangan
Kerja
Mematuhi ketentuan kerja merupakan tanggung jawab setiap
orang yang terlibat dalam kegiatan. Kepatuhan tidak cukup hanya dilakukan
ketika diawasi, tetapi harus menjadi kebiasaan.
Beberapa bentuk tanggung jawab yang perlu dibiasakan adalah:
- Membaca
dan memahami petunjuk kerja sebelum memulai kegiatan.
- Meminta
penjelasan apabila instruksi belum dipahami.
- Menggunakan
alat sesuai fungsi dan petunjuk penggunaannya.
- Tidak
mengubah prosedur atau mengambil tindakan di luar kewenangan tanpa
persetujuan.
- Melaporkan
kerusakan alat, kondisi tidak aman, kesalahan prosedur, atau kejadian yang
berpotensi menimbulkan bahaya.
- Menghentikan
atau tidak memulai pekerjaan apabila terdapat bahaya serius, sesuai
kewenangan dan prosedur yang berlaku.
- Menjaga
kejujuran dalam pencatatan data dan pelaporan hasil pekerjaan.
- Melakukan
pemeriksaan dan merapikan peralatan setelah kegiatan selesai sesuai
prosedur.
Apabila menemukan ketidaksesuaian, murid tidak boleh
menutup-nutupi masalah atau mengubah data agar terlihat benar. Masalah harus
disampaikan kepada guru atau pembimbing agar dapat diperiksa dan ditangani.
Sebagai contoh, ketika menemukan alat ukur yang rusak
sebelum praktik, murid harus melaporkannya dan tidak menggunakan alat tersebut
sebelum dinyatakan aman atau layak digunakan oleh pihak yang berwenang.
6. Contoh Penerapan dalam Kegiatan Pembelajaran
Perhatikan contoh berikut.
Sebuah kelompok murid akan melaksanakan praktik pengukuran
geologi di area sekolah. Sebelum kegiatan dimulai, guru memberikan instruksi
mengenai tujuan, lokasi, peralatan, pembagian tugas, dan ketentuan keselamatan.
Salah seorang murid menemukan bahwa bagian alat yang akan
digunakan tampak longgar. Sementara itu, anggota kelompok lain mengusulkan agar
kegiatan tetap dimulai supaya tidak terlambat.
Tindakan yang benar adalah melaporkan kondisi alat kepada
guru, tidak memaksakan penggunaan alat, dan menunggu pemeriksaan serta
keputusan dari pihak yang berwenang. Kelompok dapat melanjutkan kegiatan
setelah alat dinyatakan layak atau tersedia pengganti yang sesuai.
Dalam contoh tersebut, murid menerapkan ketentuan kerja
dengan memahami instruksi, mengikuti prosedur, bertanggung jawab terhadap
keselamatan, dan mengutamakan ketepatan pekerjaan daripada sekadar mengejar
waktu.
E. Rangkuman
- Standar
kerja merupakan acuan atau kriteria untuk menentukan mutu, ketepatan,
keselamatan, dan hasil pekerjaan.
- Peraturan
kerja mengatur ketentuan, kewajiban, larangan, serta tanggung jawab dalam
lingkungan kerja.
- Prosedur
kerja menjelaskan urutan langkah untuk melaksanakan pekerjaan secara
benar, konsisten, dan aman.
- Ketentuan
kerja dapat bersumber dari peraturan perundang-undangan, standar teknis,
kebijakan perusahaan, SOP, instruksi kerja, dan tata tertib sesuai ruang
lingkupnya.
- Kepatuhan
terhadap ketentuan kerja membantu menjaga keselamatan, mutu hasil,
efisiensi, tanggung jawab, dan kelestarian lingkungan.
- Dalam
Teknik Geologi Pertambangan, ketentuan kerja diterapkan pada pengamatan
geologi, pengukuran, pengambilan sampel, pemboran eksplorasi, kunjungan
industri, dan kegiatan praktik lainnya.
- Setiap
murid perlu membiasakan diri memahami instruksi, mengikuti prosedur,
menggunakan alat dengan benar, serta melaporkan kondisi tidak aman dan
penyimpangan kerja.
F. Latihan Soal
I. Pilihan Ganda
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Ketentuan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan mutu atau kriteria hasil pekerjaan disebut ....
A. Jadwal kerja
B. Standar kerja
C. Daftar hadir
D. Struktur organisasi
E. Laporan kegiatan
2. Perbedaan utama antara peraturan kerja dan
prosedur kerja adalah ....
A. Peraturan hanya berlaku di sekolah
B. Prosedur selalu lebih tinggi daripada peraturan perundang-undangan
C. Peraturan hanya mengatur penggunaan alat
D. Peraturan mengatur ketentuan dan kewajiban, sedangkan prosedur menjelaskan
langkah pelaksanaan pekerjaan
E. Peraturan dan prosedur memiliki pengertian yang sama
3. Dokumen yang memberikan urutan langkah pelaksanaan
suatu pekerjaan secara sistematis dikenal sebagai ....
A. SOP
B. Daftar inventaris
C. Daftar nilai
D. Jadwal piket
E. Surat undangan
4. Salah satu manfaat mengikuti prosedur kerja adalah
....
A. Menghilangkan seluruh risiko tanpa pengecualian
B. Membebaskan pekerja dari tanggung jawab
C. Membantu pekerjaan dilakukan secara benar, konsisten, dan aman
D. Mengurangi kebutuhan komunikasi
E. Membolehkan pekerja mengabaikan instruksi
5. Saat menemukan alat ukur yang rusak sebelum
praktik, tindakan yang tepat adalah ....
A. Tetap menggunakannya agar kegiatan cepat selesai
B. Meminjam alat tanpa memberi tahu guru
C. Memperbaiki alat sendiri tanpa kewenangan
D. Menyembunyikan kerusakan agar tidak disalahkan
E. Melaporkan kerusakan dan menunggu tindak lanjut yang sesuai
6. Dalam kegiatan pemboran eksplorasi, murid yang
sedang mengikuti kunjungan industri seharusnya ....
A. Mendekati mesin untuk melihatnya lebih dekat tanpa izin
B. Mengikuti arahan petugas dan mematuhi pembatasan area
C. Menyentuh peralatan agar lebih mengenal fungsinya
D. Berjalan bebas selama memakai helm
E. Mengabaikan safety briefing jika sudah pernah berkunjung
7. Ketentuan internal perusahaan harus ....
A. Menggantikan seluruh peraturan perundang-undangan
B. Berlaku hanya bagi pekerja baru
C. Dapat mengabaikan keselamatan apabila produksi meningkat
D. Sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi dan kewenangan perusahaan
E. Diterapkan hanya ketika ada pemeriksaan
8. Dalam pengambilan sampel batuan, pemberian kode
dan pencatatan lokasi bertujuan untuk ....
A. Memperindah tampilan sampel
B. Mengurangi kebutuhan pencatatan
C. Menjaga identitas dan ketertelusuran sampel
D. Mempercepat pekerjaan tanpa memperhatikan ketepatan
E. Menggantikan seluruh pemeriksaan sampel
9. Jika instruksi kerja belum dipahami, murid
sebaiknya ....
A. Meminta penjelasan kepada guru atau pembimbing sebelum
melanjutkan
B. Menebak sendiri langkah yang harus dilakukan
C. Mengikuti tindakan teman tanpa memahami alasannya
D. Mengabaikan instruksi tersebut
E. Mengubah prosedur sesuai keinginan kelompok
10. Sikap yang menunjukkan tanggung jawab terhadap
ketentuan kerja adalah ....
A. Menyembunyikan kesalahan agar pekerjaan terlihat berhasil
B. Mengubah data agar sesuai harapan
C. Menggunakan alat meskipun diketahui rusak
D. Mengutamakan kecepatan daripada keselamatan
E. Melaporkan kondisi tidak aman dan mengikuti tindak lanjut yang ditetapkan
II. Soal Uraian
Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas!
- Jelaskan
pengertian standar kerja, peraturan kerja, dan prosedur kerja serta
perbedaan di antara ketiganya.
- Sebutkan
dan jelaskan sekurang-kurangnya empat manfaat penerapan standar,
peraturan, dan prosedur kerja.
- Berikan
tiga contoh penerapan ketentuan kerja dalam kegiatan Teknik Geologi
Pertambangan.
- Apa
yang harus dilakukan murid apabila menemukan alat praktik yang rusak atau
kondisi lapangan yang tidak aman? Jelaskan alasannya.
- Mengapa
ketentuan kerja harus dipatuhi meskipun guru atau pembimbing tidak sedang
mengawasi secara langsung?
G. Penutup
Memahami standar, peraturan, dan prosedur kerja merupakan
bagian penting dalam membangun kompetensi dasar murid Teknik Geologi
Pertambangan. Pengetahuan tersebut perlu disertai kebiasaan disiplin, tanggung
jawab, ketelitian, dan kepedulian terhadap keselamatan serta lingkungan.
Murid yang mampu mengikuti instruksi, melaksanakan pekerjaan
sesuai prosedur, dan melaporkan masalah dengan jujur sedang membangun fondasi
profesionalisme yang dibutuhkan di dunia industri.
Ingatlah bahwa pekerjaan yang baik bukan hanya pekerjaan
yang menghasilkan sesuatu, tetapi juga pekerjaan yang dilaksanakan dengan
benar, aman, bertanggung jawab, dan sesuai ketentuan.
Pada DTGP Part 3, pembahasan akan dilanjutkan dengan materi Disiplin, Tanggung Jawab, Komunikasi, dan Kerja Sama Tim sebagai bagian penting dari kecakapan kerja dasar di bidang Teknik Geologi Pertambangan.
Demikian pembahasan materi terkait Dasar Teknik Geologi Pertambangan (DTGP),
Elemen Kecakapan Kerja Dasar, K3LH dan Budaya Kerja Industri. Bagi yang ingin mengerjakan soal latihan, silahkan tulis jawaban di kolom komentar.
Mari terus belajar, membangun kompetensi, bekerja dengan aman, dan menjaga lingkungan bersama GO-SINARBULAN.COM.
Semoga Bermanfaat 🙏
Sumber Referensi
- Capaian
Pembelajaran Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan, Fase E, elemen
Kecakapan Kerja Dasar, K3LH, dan Budaya Kerja.
- Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
- Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
- Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, beserta perubahan yang berlaku.
- Ketentuan
keselamatan pertambangan, standar teknis, SOP, dan instruksi kerja yang
relevan dengan jenis pekerjaan dan lokasi kegiatan.
- Tata
tertib, petunjuk praktik, dan prosedur keselamatan yang berlaku di
sekolah.
Catatan: Penerapan setiap peraturan dan standar harus
mengacu pada ketentuan yang berlaku, ruang lingkup kegiatan, serta prosedur
resmi di lokasi kerja.

Post a Comment for "DTGP Part 2: Standar, Peraturan, dan Prosedur Kerja Industri Pertambangan"