Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DTGP Part 7: Kepedulian Lingkungan, Tanggap Darurat, dan Penerapan Terpadu K3LH

 

DTGP Part 7: Kepedulian Lingkungan, Tanggap Darurat, dan Penerapan Terpadu K3LH

GO-SINARBULAN.COM
Belajar Geologi, Membangun Kompetensi, Bekerja dengan Aman, dan Menjaga Lingkungan

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari mata pelajaran Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan (DTGP) untuk murid SMK kelas X, khususnya pada elemen Kecakapan Kerja Dasar, Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Hidup (K3LH), dan Budaya Kerja.

Materi disajikan secara bertahap dalam tujuh bagian, mulai dari pengenalan kecakapan kerja dasar, standar dan prosedur kerja, disiplin dan kerja sama tim, prinsip K3LH, penggunaan alat pelindung diri (APD), budaya kerja industri 5R, hingga kepedulian lingkungan dan tanggap darurat. 

Kali ini kita sudah memasukiS DTGP Part 7 dengan pokok bahasan : Kepedulian Lingkungan, Tanggap Darurat, dan Penerapan Terpadu K3LH

Agar lebih mudah dipahami, materi dikemas dengan bahasa yang sederhana, pembahasan yang lebih ringan, serta contoh-contoh yang dekat dengan kegiatan pembelajaran dan praktik Teknik Geologi Pertambangan. Dengan demikian, murid diharapkan dapat memahami konsep dasar secara bertahap dan menerapkannya dalam kegiatan belajar maupun sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Mari belajar bersama, membangun kebiasaan kerja yang baik, mengutamakan keselamatan, dan menjaga lingkungan sejak bangku sekolah.

A. Pendahuluan

Kegiatan Teknik Geologi Pertambangan tidak terlepas dari interaksi dengan lingkungan, penggunaan peralatan, pergerakan manusia dan material, serta berbagai potensi bahaya. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan, memahami prosedur tanggap darurat, dan menerapkan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Hidup (K3LH).

Kepedulian lingkungan diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti mengelola sampah dengan benar, mencegah pencemaran, menjaga kebersihan area kerja, serta menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab. Sementara itu, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat diperlukan agar setiap orang mengetahui tindakan yang tepat ketika terjadi kondisi yang mengancam keselamatan.

Penerapan K3LH juga tidak berdiri sendiri. Prinsip ini harus didukung oleh kepatuhan terhadap prosedur kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), identifikasi bahaya, komunikasi yang baik, kedisiplinan, kerja sama tim, serta budaya kerja 5R.

Melalui materi terakhir dalam seri Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan (DTGP) ini, murid diharapkan mampu menghubungkan seluruh materi yang telah dipelajari dan menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran maupun praktik secara aman, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan.

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, murid diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pentingnya kepedulian lingkungan dalam kegiatan Teknik Geologi Pertambangan.
  2. Mengidentifikasi potensi pencemaran dan kerusakan lingkungan di area kerja.
  3. Menjelaskan prinsip pengelolaan sampah dan material sisa praktik.
  4. Mengidentifikasi jenis keadaan darurat yang dapat terjadi dalam kegiatan pembelajaran dan pekerjaan.
  5. Menjelaskan tindakan awal yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
  6. Menjelaskan hubungan K3LH, APD, prosedur kerja, dan budaya kerja 5R.
  7. Menyusun contoh penerapan terpadu K3LH dalam kegiatan praktik Teknik Geologi Pertambangan.

C. Materi Pokok

1. Pengertian Kepedulian Lingkungan

Kepedulian lingkungan adalah sikap dan tindakan yang menunjukkan tanggung jawab dalam menjaga, melindungi, dan mengelola lingkungan agar tidak mengalami pencemaran atau kerusakan yang dapat dicegah.

Dalam bidang Teknik Geologi Pertambangan, kepedulian lingkungan perlu diterapkan sejak kegiatan pembelajaran, pengambilan data lapangan, pengamatan batuan, pengelolaan sampel, hingga kegiatan pertambangan di dunia industri.

Kegiatan pertambangan dapat menimbulkan perubahan bentang alam, gangguan terhadap vegetasi, erosi, sedimentasi, debu, kebisingan, dan perubahan kualitas air apabila tidak direncanakan serta dikelola dengan baik. Karena itu, pengelolaan lingkungan perlu menjadi bagian dari perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, bukan hanya dilakukan setelah muncul masalah.

Contoh kepedulian lingkungan dalam Teknik Geologi Pertambangan:

    • Tidak membuang sampah di lokasi pengamatan atau praktik lapangan.
    • Mengambil sampel batuan sesuai kebutuhan pembelajaran dan ketentuan yang berlaku.
    • Menghindari kerusakan vegetasi yang tidak diperlukan untuk kegiatan.
    • Menjaga kebersihan area kerja dan jalur pengamatan.
    • Menghemat penggunaan air dan bahan pendukung praktik.
    • Melaporkan tumpahan atau kondisi yang berpotensi mencemari lingkungan.
    • Mengikuti ketentuan pengelolaan limbah dan pemulihan area yang berlaku.

Kepedulian lingkungan bukan hanya tanggung jawab perusahaan atau petugas khusus. Setiap murid, pekerja, pembimbing, dan pihak yang berada di area kegiatan memiliki tanggung jawab sesuai peran masing-masing.

2. Potensi Dampak Lingkungan dalam Kegiatan Geologi Pertambangan

Dampak lingkungan dapat muncul dari kegiatan eksplorasi, pengambilan sampel, pembukaan lahan, pengangkutan material, pengoperasian peralatan, maupun pengelolaan limbah.

Beberapa contoh potensi dampak lingkungan antara lain:

a. Kerusakan vegetasi dan perubahan lahan

Pembukaan jalur atau area kerja yang tidak terkendali dapat menghilangkan vegetasi dan mengubah kondisi permukaan tanah. Dampaknya dapat berupa peningkatan erosi, perubahan habitat, dan terganggunya kestabilan lahan.

b. Erosi dan sedimentasi

Tanah yang terbuka dapat lebih mudah tererosi oleh air hujan. Material tanah yang terbawa aliran air kemudian dapat mengendap di saluran atau badan air dan meningkatkan sedimentasi.

c. Pencemaran air

Tumpahan bahan bakar, oli, bahan kimia, atau material lain yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari air. Air yang mengalir dari area tertentu juga dapat membawa sedimen atau zat pencemar.

d. Pencemaran udara

Debu dari jalan angkut, kegiatan penggalian, pemindahan material, atau pengolahan batuan dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan apabila tidak dikendalikan dengan tepat.

e. Kebisingan

Penggunaan alat mekanis dan kegiatan operasional tertentu dapat menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat, pekerja, maupun satwa di sekitar lokasi.

f. Timbulan sampah dan limbah

Sampah kemasan, sisa material praktik, oli bekas, dan bahan lain memerlukan pengelolaan sesuai jenis serta karakteristiknya. Pembuangan sembarangan dapat menimbulkan pencemaran dan bahaya keselamatan.

Memahami potensi dampak tersebut membantu murid mengenali bahwa setiap kegiatan perlu direncanakan dengan mempertimbangkan keselamatan manusia dan perlindungan lingkungan.

3. Prinsip Pengelolaan Sampah dan Material Sisa

Pengelolaan sampah dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah, menjaga kebersihan, dan mencegah pencemaran. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah mengurangi penggunaan bahan yang tidak diperlukan, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mendaur ulang material yang dapat diolah kembali melalui jalur yang sesuai.

Namun, tidak semua material boleh diperlakukan sebagai sampah biasa. Material yang terkontaminasi oli, bahan kimia, atau zat berbahaya lainnya harus dipisahkan dan ditangani sesuai prosedur yang berlaku.

Contoh penerapan di lingkungan pembelajaran Teknik Geologi Pertambangan:

    • Memisahkan sampah umum dari material yang berpotensi berbahaya.
    • Menggunakan kembali wadah penyimpanan yang masih layak dan aman.
    • Mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai jika tersedia alternatif yang sesuai.
    • Menyimpan sampel batuan yang masih diperlukan untuk pembelajaran dengan label yang jelas.
    • Mengumpulkan sisa material praktik pada tempat yang ditentukan.
    • Tidak membuang oli, bahan kimia, atau cairan yang tidak diketahui ke tanah dan saluran air.
    • Melaporkan limbah yang memerlukan penanganan khusus kepada guru atau petugas yang berwenang.

Pengelolaan sampah yang baik juga berkaitan dengan budaya kerja 5R. Area yang ringkas, rapi, dan resik memudahkan pemilahan material serta mencegah sampah dan barang yang tidak diperlukan menumpuk di area kerja.

4. Pengertian Keadaan Darurat

Keadaan darurat adalah situasi yang terjadi secara tiba-tiba atau berkembang dengan cepat sehingga dapat mengancam keselamatan manusia, menimbulkan kerusakan, atau menyebabkan pencemaran lingkungan dan memerlukan respons segera.

Keadaan darurat dapat terjadi di ruang kelas, laboratorium, area praktik, perjalanan lapangan, maupun lingkungan industri.

Contoh keadaan darurat dalam kegiatan Teknik Geologi Pertambangan meliputi:

    1. Kebakaran.
    2. Cedera atau kecelakaan kerja.
    3. Pingsan atau kondisi kesehatan yang membutuhkan pertolongan segera.
    4. Longsoran tanah atau runtuhan batuan.
    5. Gempa bumi.
    6. Banjir atau cuaca ekstrem saat kegiatan lapangan.
    7. Tumpahan bahan bakar, oli, atau bahan kimia.
    8. Kerusakan peralatan yang menimbulkan bahaya.
    9. Keadaan lain yang mengharuskan penghentian kegiatan dan evakuasi.

Tidak semua kejadian memiliki tingkat risiko yang sama. Oleh sebab itu, tindakan yang dilakukan harus mempertimbangkan jenis bahaya, kondisi lokasi, prosedur darurat, dan kemampuan orang yang memberikan pertolongan.

5. Tindakan Awal Ketika Menghadapi Keadaan Darurat

Ketika menghadapi keadaan darurat, keselamatan diri dan orang lain harus menjadi prioritas. Murid tidak boleh bertindak gegabah atau melakukan tindakan penyelamatan yang justru menambah korban.

Secara umum, tindakan awal yang dapat dilakukan meliputi:

a. Kenali bahaya

Perhatikan apa yang terjadi dan identifikasi bahaya yang masih berlangsung, misalnya api, material yang berpotensi runtuh, aliran listrik, asap, atau tumpahan bahan berbahaya.

b. Hentikan kegiatan jika diperlukan

Hentikan pekerjaan apabila kondisi tidak aman. Jangan melanjutkan kegiatan untuk menyelesaikan tugas ketika terdapat bahaya yang mengancam.

c. Berikan peringatan dan laporkan kejadian

Sampaikan informasi secara jelas kepada guru, pembimbing, pengawas, petugas tanggap darurat, atau pihak yang berwenang sesuai prosedur di lokasi.

d. Lakukan evakuasi sesuai arahan

Apabila evakuasi diperlukan, bergeraklah melalui jalur yang telah ditentukan menuju titik kumpul. Hindari mendorong, berlari tanpa kendali, atau kembali ke area berbahaya untuk mengambil barang.

e. Berikan pertolongan sesuai kemampuan

Pertolongan kepada korban dilakukan apabila situasi aman dan penolong memiliki kemampuan yang sesuai. Jangan memindahkan korban secara sembarangan, terutama jika dicurigai mengalami cedera serius, kecuali terdapat bahaya langsung yang mengharuskan pemindahan.

f. Tunggu instruksi petugas

Setelah berada di tempat aman, ikuti arahan petugas dan jangan kembali ke lokasi kejadian sebelum dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang.

Tindakan tersebut merupakan prinsip umum. Prosedur khusus untuk kebakaran, tumpahan bahan kimia, longsoran, atau kejadian lainnya harus mengikuti rencana tanggap darurat dan instruksi petugas yang berwenang.

6. Tanggap Darurat pada Beberapa Situasi

a. Kebakaran

Jika mengetahui adanya kebakaran, berikan peringatan dan laporkan segera. Lakukan evakuasi melalui jalur aman sesuai prosedur. Jangan mencoba memadamkan api apabila api sudah membesar, terdapat asap pekat, atau tindakan tersebut membahayakan diri.

Alat pemadam api hanya digunakan oleh orang yang telah memahami cara penggunaannya, apabila kondisi memungkinkan dan tersedia jalur untuk menyelamatkan diri.

b. Kecelakaan atau cedera

Laporkan kejadian kepada guru, pembimbing, petugas P3K, atau petugas darurat. Pastikan area tidak menimbulkan korban tambahan. Jangan memberikan obat atau melakukan tindakan medis di luar kemampuan. Untuk cedera serius, segera minta bantuan tenaga medis.

c. Longsoran tanah atau runtuhan batuan

Segera menjauh dari area yang berpotensi mengalami longsoran melalui jalur yang aman dan beri peringatan kepada orang lain. Jangan mendekati atau memasuki area runtuhan untuk melakukan penyelamatan tanpa penilaian keselamatan dan petugas yang kompeten.

d. Tumpahan bahan berbahaya

Hindari menyentuh, menghirup, atau menyebarkan bahan yang tumpah. Jauhkan orang dari area tersebut dan laporkan kepada petugas yang berwenang. Penanganan dilakukan sesuai karakteristik bahan dan prosedur yang berlaku.

e. Cuaca ekstrem saat praktik lapangan

Kegiatan harus dihentikan atau dipindahkan apabila kondisi cuaca menimbulkan bahaya, seperti petir, hujan lebat, banjir, atau meningkatnya risiko longsor. Murid harus mengikuti arahan guru atau pembimbing dan menuju tempat aman yang telah ditentukan.

7. Kesiapsiagaan Menghadapi Keadaan Darurat

Kesiapsiagaan berarti melakukan persiapan sebelum keadaan darurat terjadi. Persiapan yang baik membantu setiap orang memahami peran, jalur evakuasi, cara melapor, dan tindakan yang harus dilakukan.

Beberapa bentuk kesiapsiagaan antara lain:

    • Mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul.
    • Memahami tanda peringatan serta cara menyampaikan laporan darurat.
    • Mengetahui lokasi perlengkapan keselamatan yang tersedia.
    • Memeriksa kondisi peralatan sesuai jadwal dan kewenangan.
    • Mengikuti simulasi keadaan darurat.
    • Memahami pembagian tugas sesuai prosedur.
    • Memastikan sarana komunikasi dapat digunakan.
    • Mengetahui pihak yang harus dihubungi ketika terjadi keadaan darurat.

Dalam praktik lapangan, persiapan juga mencakup pemeriksaan kondisi cuaca, penentuan jalur yang aman, pendataan anggota kelompok, penyampaian informasi lokasi, dan penetapan prosedur komunikasi.

Kesiapsiagaan bukan berarti mengharapkan terjadinya kecelakaan. Sebaliknya, kesiapsiagaan merupakan langkah untuk mengurangi risiko dan membatasi dampak apabila kejadian yang tidak diinginkan terjadi.

8. Penerapan Terpadu K3LH

K3LH merupakan penerapan keselamatan, kesehatan kerja, dan perlindungan lingkungan yang dilakukan secara menyeluruh dalam kegiatan kerja. Penerapannya perlu menggabungkan keterampilan kerja dasar, kepatuhan terhadap prosedur, penggunaan APD, identifikasi bahaya, budaya kerja 5R, kepedulian lingkungan, dan kesiapsiagaan darurat.

Penerapan terpadu berarti setiap unsur tersebut saling mendukung, bukan dilakukan secara terpisah.

Contoh penerapan terpadu K3LH dalam praktik pengambilan sampel batuan:

Sebelum kegiatan

    • Memahami tujuan dan prosedur praktik.
    • Menentukan area kerja yang diperbolehkan.
    • Mengidentifikasi bahaya, seperti permukaan licin, batuan tidak stabil, atau cuaca buruk.
    • Menentukan pengendalian risiko dan APD sesuai bahaya.
    • Menyiapkan alat serta memastikan kondisinya layak.
    • Menyiapkan cara komunikasi dan tindakan darurat.
    • Menentukan cara pengumpulan serta penyimpanan sampel dan sampah.

Selama kegiatan

    • Mengikuti arahan guru atau pembimbing.
    • Menggunakan APD yang sesuai.
    • Menggunakan alat sesuai fungsi dan prosedur.
    • Menjaga jarak aman dan berkomunikasi dengan anggota kelompok.
    • Menghentikan kegiatan apabila muncul kondisi tidak aman.
    • Menjaga area kerja agar tidak dipenuhi barang yang tidak diperlukan.
    • Mencegah kerusakan lingkungan yang tidak diperlukan.

Setelah kegiatan

    • Menghitung dan memeriksa kembali peralatan.
    • Membersihkan serta menyimpan alat sesuai prosedur.
    • Menata sampel dan memberi label yang benar.
    • Mengelola sampah dan sisa material sesuai ketentuan.
    • Memeriksa area untuk memastikan tidak ada barang atau sampah yang tertinggal.
    • Melaporkan kerusakan, kejadian, atau kondisi tidak aman.
    • Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan untuk perbaikan berikutnya.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa K3LH harus diterapkan sejak tahap perencanaan sampai kegiatan berakhir.

9. Peran dan Tanggung Jawab dalam Penerapan K3LH

Penerapan K3LH memerlukan keterlibatan semua pihak, dengan tanggung jawab sesuai peran dan kewenangannya.

Murid atau pekerja

    • Mematuhi prosedur dan instruksi kerja.
    • Menggunakan APD sesuai ketentuan.
    • Menjaga kebersihan dan kerapian area kerja.
    • Melaporkan bahaya, kerusakan alat, dan kejadian yang tidak diinginkan.
    • Mengikuti prosedur tanggap darurat.

Guru atau pembimbing

    • Memberikan instruksi dan penjelasan keselamatan sebelum praktik.
    • Memastikan kegiatan direncanakan sesuai kondisi dan kemampuan peserta.
    • Mengawasi pelaksanaan prosedur keselamatan.
    • Menghentikan kegiatan apabila terdapat kondisi yang tidak aman.
    • Memastikan laporan kejadian ditindaklanjuti sesuai prosedur.

Perusahaan dan pengelola kegiatan

    • Menyediakan sistem kerja, prosedur, serta sarana keselamatan sesuai kewajiban dan kebutuhan.
    • Melakukan identifikasi bahaya dan pengendalian risiko.
    • Menyediakan pelatihan serta pengawasan yang diperlukan.
    • Mengelola dampak lingkungan sesuai ketentuan.
    • Menyiapkan rencana tanggap darurat dan melakukan evaluasi.

Keselamatan bukan hanya tanggung jawab individu. Pengelola kegiatan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa sistem, sarana, dan prosedur yang diperlukan tersedia serta diterapkan.

10. Membangun Budaya Peduli Keselamatan dan Lingkungan

Budaya K3LH terbentuk melalui kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten. Budaya ini tidak cukup dibangun melalui slogan atau aturan tertulis, tetapi harus terlihat dalam perilaku nyata.

Contohnya adalah memeriksa alat sebelum digunakan, memakai APD sesuai bahaya, menjaga kebersihan area kerja, melaporkan kondisi tidak aman, mengikuti arahan evakuasi, dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan orang lain.

Dalam kegiatan pembelajaran, murid dapat membangun budaya tersebut dengan membiasakan diri untuk:

    1. Berpikir sebelum bertindak.
    2. Memahami bahaya sebelum memulai pekerjaan.
    3. Mematuhi prosedur yang telah ditetapkan.
    4. Berkomunikasi dengan jelas dan bekerja sama.
    5. Menjaga lingkungan serta mengelola sampah dengan benar.
    6. Menghentikan dan melaporkan kegiatan apabila kondisi tidak aman.
    7. Melakukan evaluasi untuk memperbaiki cara kerja.

Kebiasaan tersebut menjadi bekal penting bagi murid untuk memasuki dunia kerja yang menuntut profesionalisme, kedisiplinan, kepedulian, dan tanggung jawab.

D. Rangkuman

Kepedulian lingkungan, tanggap darurat, dan penerapan terpadu K3LH merupakan bagian penting dari kecakapan kerja dasar dalam Teknik Geologi Pertambangan.

Hal-hal utama yang perlu dipahami adalah:

  1. Kepedulian lingkungan diwujudkan melalui pencegahan pencemaran, pengelolaan sampah dan material sisa, serta perlindungan lingkungan.
  2. Keadaan darurat dapat berupa kebakaran, kecelakaan, longsoran, cuaca ekstrem, atau tumpahan bahan berbahaya.
  3. Tanggap darurat harus mengutamakan keselamatan, pelaporan, evakuasi, dan pertolongan sesuai kemampuan serta prosedur.
  4. Kesiapsiagaan dilakukan melalui pemahaman jalur evakuasi, komunikasi, pembagian tugas, dan latihan.
  5. Penerapan terpadu K3LH menghubungkan prosedur kerja, identifikasi bahaya, APD, budaya 5R, kepedulian lingkungan, dan kesiapsiagaan darurat.
  6. Budaya keselamatan dan lingkungan perlu diterapkan secara konsisten oleh setiap orang sesuai peran dan tanggung jawabnya.

E. Latihan Soal Pilihan Ganda

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1. Salah satu bentuk kepedulian lingkungan dalam kegiatan Teknik Geologi Pertambangan adalah ....

A. membuang sampah di lokasi yang jauh dari ruang kelas
B. mengambil sampel batuan sebanyak mungkin tanpa pertimbangan
C. membiarkan tumpahan oli mengering dengan sendirinya
D. mengelola sampah dan material sisa sesuai jenis serta ketentuan
E. membersihkan area hanya ketika akan diperiksa

2. Material yang berpotensi mengandung bahan berbahaya sebaiknya ....

A. dicampurkan dengan sampah biasa
B. dibuang ke saluran air
C. ditangani sesuai karakteristik bahan dan prosedur yang berlaku
D. dipindahkan oleh siapa saja tanpa arahan
E. ditimbun di tanah tanpa pemeriksaan

3. Ketika terjadi keadaan darurat, tindakan awal yang paling tepat adalah ....

A. mengutamakan penyelamatan barang milik pribadi
B. mengenali bahaya, memberi peringatan, dan mengikuti prosedur darurat
C. mendekati sumber bahaya untuk melihat kejadian
D. menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya
E. melanjutkan pekerjaan jika tugas belum selesai

4. Apabila terjadi longsoran tanah di dekat area praktik, murid sebaiknya ....

A. mendekati lokasi untuk membantu tanpa menilai bahaya
B. mengambil peralatan yang tertinggal terlebih dahulu
C. memasuki area longsoran untuk memeriksa kondisi tanah
D. menunggu di tempat berbahaya sampai ada instruksi
E. menjauh melalui jalur aman, memberi peringatan, dan melapor

5. Salah satu tujuan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat adalah ....

A. menghilangkan seluruh prosedur kerja
B. memastikan pekerjaan selesai lebih cepat
C. mengurangi kebutuhan komunikasi
D. membantu setiap orang memahami tindakan yang perlu dilakukan saat darurat
E. menghindari pelaporan kejadian

6. Penerapan terpadu K3LH berarti ....

A. menggunakan APD saja tanpa perlu memeriksa bahaya
B. menggabungkan keselamatan kerja, kepedulian lingkungan, prosedur, dan kesiapsiagaan
C. melakukan pembersihan hanya setelah pekerjaan selesai
D. menyerahkan seluruh tanggung jawab keselamatan kepada petugas
E. mengutamakan hasil pekerjaan tanpa mempertimbangkan risiko

7. Sebelum melakukan praktik lapangan, kelompok murid sebaiknya ....

A. langsung memulai kegiatan agar menghemat waktu
B. menentukan jalur sendiri tanpa berkoordinasi
C. memahami prosedur, mengidentifikasi bahaya, dan menyiapkan perlengkapan yang sesuai
D. membawa semua peralatan tanpa memeriksa kondisinya
E. mengabaikan informasi cuaca

8. Ketika menemukan kondisi tidak aman selama praktik, tindakan yang tepat adalah ....

A. melanjutkan pekerjaan agar target selesai
B. menyembunyikan kejadian agar tidak mendapat teguran
C. menunggu sampai terjadi kecelakaan
D. menghentikan kegiatan bila diperlukan dan melaporkannya kepada pihak berwenang
E. meminta teman mengatasi bahaya tanpa arahan

9. Hubungan budaya kerja 5R dengan kepedulian lingkungan ditunjukkan oleh tindakan ....

A. menumpuk sisa material di sudut area kerja
B. mengembalikan semua sampah ke dalam satu wadah tanpa pemilahan
C. membuang sampah ke lokasi yang tidak terlihat
D. menggunakan alat tanpa memeriksa kebersihannya
E. menjaga area tetap tertata dan mengelola sampah serta material sisa dengan benar

10. Pernyataan yang paling tepat mengenai tanggung jawab K3LH adalah ....

A. hanya menjadi tanggung jawab petugas keselamatan
B. hanya berlaku ketika bekerja di perusahaan besar
C. menjadi tanggung jawab semua pihak sesuai peran dan kewenangannya
D. cukup dilakukan setelah terjadi kecelakaan
E. tidak diperlukan dalam kegiatan praktik di sekolah

F. Soal Esai

Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan disertai contoh yang sesuai!

  1. Jelaskan pentingnya kepedulian lingkungan dalam kegiatan Teknik Geologi Pertambangan. Sebutkan tiga tindakan nyata yang dapat dilakukan murid.
  2. Jelaskan langkah-langkah umum yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat di area praktik.
  3. Mengapa kesiapsiagaan dan latihan tanggap darurat perlu dilakukan sebelum kegiatan lapangan?
  4. Jelaskan hubungan antara prosedur kerja, identifikasi bahaya, penggunaan APD, budaya kerja 5R, kepedulian lingkungan, dan tanggap darurat dalam penerapan terpadu K3LH.
  5. Buatlah contoh rencana kegiatan praktik Teknik Geologi Pertambangan yang menerapkan K3LH secara terpadu pada tahap sebelum, selama, dan setelah praktik.

G. Penutup

Mempelajari Teknik Geologi Pertambangan tidak hanya berarti memahami batuan, mineral, pemetaan, eksplorasi, atau kegiatan penambangan. Murid juga perlu membangun sikap kerja yang aman, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta peduli terhadap lingkungan.

Keterampilan kerja yang baik harus disertai kemampuan mengenali bahaya, mematuhi prosedur, menggunakan APD dengan benar, menjaga kebersihan dan kerapian, serta mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.

Melalui tujuh bagian materi DTGP ini, diharapkan murid memperoleh bekal awal untuk mengembangkan kecakapan kerja dasar dan budaya kerja industri dalam bidang Teknik Geologi Pertambangan.

Ingatlah: pekerjaan yang baik bukan hanya pekerjaan yang selesai, tetapi pekerjaan yang dilakukan dengan aman, bertanggung jawab, dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Terus belajar, terus berlatih, dan biasakan bekerja dengan aman.

GO-SINARBULAN.COM
Belajar Geologi Pertambangan, Membangun Kompetensi, Bekerja dengan Aman, dan Menjaga Lingkungan.

Sumber Bacaan

  1. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Menjadi rujukan dasar untuk memahami pentingnya pencegahan kecelakaan dan penerapan persyaratan keselamatan di tempat kerja.
    Tautan: DI SINI

  2. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Membahas perlindungan dan pengelolaan mutu lingkungan, pengendalian kerusakan lingkungan, serta pengelolaan limbah.
    Tautan: DI SINI

  3. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik. Menjadi rujukan untuk mempelajari kaidah teknik pertambangan yang baik, termasuk aspek keselamatan pertambangan dan pengelolaan lingkungan. Perlu diperhatikan bahwa terdapat ketentuan tertentu dalam keputusan ini yang telah dicabut sebagian.
    Tautan: DI SINI

Sumber bacaan tersebut digunakan untuk memperdalam pemahaman mengenai keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, pengelolaan limbah, dan penerapan kaidah pertambangan yang baik.

Catatan: 

  • Materi dalam artikel ini telah disederhanakan dan disesuaikan dengan konteks pembelajaran Dasar-Dasar Teknik Geologi Pertambangan untuk murid SMK kelas X. Untuk tindakan tanggap darurat, murid tetap harus mengikuti prosedur resmi sekolah atau lokasi praktik serta arahan petugas yang berwenang.
  • Rujukan pemerintah tersebut mendukung pembahasan K3, pengelolaan lingkungan, limbah, dan kaidah pertambangan yang baik.
  • Jikan ingin mengerjakan latihan soal, silahkan tinggalkan jawaban di kolom komentar🙏


Post a Comment for "DTGP Part 7: Kepedulian Lingkungan, Tanggap Darurat, dan Penerapan Terpadu K3LH"